PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pemikiran dan Alasan Pemilihan Judul
Kita memang berbeda. Itu sudah lama di antara kita. Perbedaan itu tidak saja kita perbandingkan, tapi lebih dari itu, biasanya kita pertandingkan. Pertentangan sudah biasa di antara kita. Itu juga sudah lama di antara kita.
Dalam konteks masyarakat majemuk, pernyataan ini sepertinya tidak lagi merupakan sesuatu yang aneh. Bahwa tidak sedikit anak-anak manusia yang senantiasa berpikir, bertutur dan bersikap fanatik. Prinsip eksklusif tertutup begitu kentara. Saat itu tembok-tembok prasangka turut dibangun. Dengannya mereka telah memisahkan diri dari “yang lain”. Bahkan kemudian mengklaim diri sebagai yang paling benar. Jangan heran kalau mereka memastikan diri sebagai satu-satunya yang diselamatkan oleh Allah. Dalam komunitas yang demikian itu, tidaklah aneh kalau “partikularisme” menjadi sesuatu yang diagungkan.
Haruslah dibanggakan ketika pada komunitas yang demikian itu, tampil (apakah dari luar atau dari dalam komunitas itu sendiri) seorang yang sadar akan realitas pluralitas agama. Ia kemudian dengan sadar dan lebih jujur serta kritis dan kreatif memotivasi pemikiran yang inklusif dan terbuka. Ia sadar bahwa kuasa selamat bukan datang dari manusia atau kelompok agama yang kerdil dan picik. Ia mengagungkan bahwa pembenaran itu hanya datang dari Allah sebagai anugerah-Nya. Kemudian mengusulkan konsep iman yang universal pada mereka yang eksklusivistis agar boleh mempertimbangkan jalan keluar dari benteng pertahanan mereka. Atau bahkan lebih dari itu harus merobohkan tembok-tembok pemisah itu dan datang pada suatu pengakuan bahwa keselamatan dari Tuhan Allah tak bisa seenaknya dibatasi dengan bahasa dan ukuran manusia. Bahwa Allah yang karena begitu besar kasih-Nya akan dunia ini sehingga Ia menyelamatkannya dengan cara-Nya, di mana anugerah selamat itu diberikan-Nya untuk semua ciptaan-Nya.
Dalam konteks kemajemukan agama, kondisi yang saya gambarkan di bagian awal bukan saja sering terjadi. Lebih dari itu telah menjadi model yang riil. Penekanan pada superioritas dan finalitas agama atau kepercayaan tertentu seakan telah berurat akar dalam relung anak-anak manusia yang adalah orang-orang beragama. Tidak heran ketika, sekali lagi, partikularisme seakan telah menjadi “lifestyle” atau gaya hidup dari orang-orang beragama tersebut.
Paradigma semacam ini sebenarnya telah lama terjadi. Pada masa penulisan kitab Yunus, hal seperti itu bukan saja menjadi wacana tapi lebih dari itu, telah merupakan realitas. Bahkan seperti yang saya singgung di atas, telah menjadi “lifestyle” atau gaya hidup dari orang-orang Israel[1] yang ada saat itu sebagai wujud penonjolan bahwa mereka umat Allah. Partikularisme dalam kehidupan atau komunitas orang-orang Israel itu telah mendesak penulis kitab Yunus untuk mengkritik atau bahkan memporak-porandakan paradignia semacam itu.
Kehadiran si penulis kitab Yunus ini patut diselami makna reformatorisnya. Dalam sastranya, si penulis tidak hanya mengkritik tapi sekaligus memberi pengajaran kepada umat, dalam hal ini orang Israel. Mengkritik apa? dan mengajarkan apa? Yang hendak dikritik oleh si penulis kitab Yunus adalah partikularisme dan sekaligus hendak mengajarkan tentang Universalisme (istilah ini akan dijelaskan dalam BAB I.F). Sejalan dengan itu, saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh James Limburg, seorang guru besar dalam bidang Perjanjian Lama, bahwa kitab Yunus ini merupakan "Didactic Story" atau cerita yang sifatnya mengajar atau mendidik[2].
Jadi dapat dipahami bahwa sebenarnya kehadiran kitab Yunus ini merupakan reaksi tegas dari si penulis kitab akibat berkembangnya partikularisme di Israel. Bersamaan dengan pandangan ini, Sri Wismoady Wahono, seorang guru besar dalam bidang studi Perjanjian Lama, menegaskan bahwa kitab Yunus ini ditulis untuk mengkritik orang-orang Yahudi setelah zaman pembuangan di Babilonia yang merasa sebagai umat milik Allah secara khusus[3]. Paradigma semacam itu menyebabkan orang Yahudi/Israel sangat sulit menerima kalau ada orang lain yang bukan Israel/Yahudi apalagi musuh Israel (dalam hubungannya dengan kitab Yunus ialah orang Niniwe/Asyur) masuk menjadi umat Allah atau diselamatkan oleh Allah[4].
Dalam situasi yang demikian itu, sekali lagi, si penulis kitab Yunus – tentu dengan hikmat yang dari Allah – memberitakan apa yang disebut Universalisme. Bahwa keselamatan adalah dari Tuhan Allah (Yun. 2: 9) dan keselarnatan dari Tuhan Allah itu adalah untuk semua orang bahkan untuk semua ciptaan-Nya.
Tuhan Allah bukan saja mengasihi Yunus (baca: Israel), melainkan juga awak kapal dan penduduk Niniwe dan bahkan seluruh ternak di Niniwe (Yun. 1; 3; 4:11). Si penulis kitab Yunus memberi penegasan bahwa ini semua terjadi karena “Allah adalah pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Yun. 4:2).
Dalam kitab Perjanjian Lama, khususnya kitab Nabi-nabi, tentu bukan hanya Yunus yang memberitakan tentang universalisme. Masih ada kitab lain, misalnya kitab Yesaya. Tapi saya tentu punya alasan mengapa memilih kitab Yunus sebagai pokok studi dan penelitian dalam skripsi ini.
Pertama, saya yakin bahwa semua orang Kristen mengenal kitab Yunus ataupun cerita tentang Yunus, karena ia memang sudah menjadi salah satu cerita favorit sejak di Sekolah Minggu. Tapi yang menjadi persoalan ialah banyak orang mengenal kitab Yunus atau cerita tentang Yunus itu hanya karena ada hubungannya dengan ikan besar itu. Sepaham dengan pendapat tersebut, St. Darmawijaya menulis:
Tidak banyak tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama yang begitu terkenal seperti Yunus, dan sekaligus paling tidak dipahami. Bagi banyak orang Kristen, Yunus tidak sampai di Niniwe, dan juga tidak bergumul dengan Allah. Yunus hanyalah tetap tinggal di perut ikan, seolah-olah seluruh kisah mengenai tokoh itu berhenti di sana[5].
Hal ini mendorong saya untuk mendalami apa pesan kitab Yunus, karena cerita itu mencakup lebih banyak hal dari pada sekedar peristiwa Yunus ditelan oleh seekor ikan besar.
Kedua, bahwa sebenarnya yang hendak disampaikan oleh kitab Yunus, yang terdiri dari 48 ayat itu, adalah tentang universalisme. Sekalipun demikian, ada juga yang menolak pandangan ini. Albertus Theodor Kramer misalnya, mengatakan bahwa pandangan – seperti yang saya katakan di atas bahwa berita yang hendak disampaikan oleh kitab Yunus adalah tentang universalisme – tidak tepat dan tidak punya dasar kuat. Bagi Kramer, pokok pemberitaan kitab Yunus adalah tentang “hubungan atau relasi Tuhan dengan nabi-Nya”[6], bukan tentang universulisme.
Menurut saya, pandangan Kramer itu tidak salah. Saya tentu menghargai dan menerima juga pandangan yang demikian. Karena dalam pandangan saya bahwa mempertahankan apa yang kita anggap dan bahkan yakini sebagai yang benar tidak berarti harus menolak apa yang orang lain yakini benar atau valid.
Berdasarkan latar belakang pemikiran dan alasan-alasan praktis teologis di atas, maka dalam karya ilmiah ini saya bermaksud melakukan studi mendalam tentang universalisme dalam kitab Yunus. Kemudian bagaimana implementasinya dalam upaya gereja berteologi sekarang ini yang berada dalam konteks kemajemukan agama. Dengan demikian maka karya ilmiah ini diberi judul: UNIVERSALISME MENURUT YUNUS 3: 1 – 10.
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang pemikiran dan alasan pemilihan judul di atas, maka perlu dilakukan identifikasi masalah seperti berikut ini:
· Bagaimana pemahaman orang Yahudi tentang keselamatan ?
· Bagaimana pemahaman penulis kitab Yunus tentang keselamatan ?
· Bagaimana konsep universalisme menurut kitab Yunus, khususnya Yunus 3:1-10?
· Apakah ada aspek misiologis dalam kitab Yunus ?
· Apakah universalisme menjadi faktor pendorong proselitisme ?
· Apakah kitab Yunus merupakan wujud permulaan proselitisme Israel ?
· Apa pesan dari berita kitab Yunus, secara khususnya Yunus 3: 1 – 10 bagi gereja dalam upaya berteologi pada masa kini dalam konteks kemajemukan agama?
2. Pembatasan Masalah
Melalui identifikasi masalah di atas maka dalam karya ilmiah ini saya membatasinya pada :
· Bagaimana konsep universalisme menurut Yunus 3: 1 - 10 ?
· Apa pesan dari berita Kitab Yunus, secara khusus Yunus 3: 1 - 10 bagi gereja dalam upaya berteologi pada masa kini dalam konteks kemajemukan agama ?
3. Perumusan Masalah
Melalui identifikasi dan pembatasan masalah di atas maka untuk mempermudah proses studi dan penelitian menyangkut karya ini, saya merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: “Bagaimana konsep Universalisme menurut Yunus 3: 1 – 10 dan apa pesannya bagi gereja dalarm upaya berteologi pada masa kini dalam konteks kemajemukan agama ?”
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna meraih gelar Sarjana Teologi di Fakultas Teologi UKIT;
2. Memberikan gambaran umum umat Israel/Yahudi yang memberi pengaruh di balik munculnya kitab Yunus;
3. Memberikan pemahaman yang jelas tentang isi pemberitaan kitab Yunus, khususnya Yunus 3: 1 - 10;
4. Memberikan pemahaman yang jelas tentang Universalisme;
5. Mendapatkan relevansi dan/atau pesan berita Universalisme menurut Yunus 3: 1 – 10 bagi kehidupan gereja dalam upayaa berteologi pada masa kini dalam konteks kemajemukan agama.
D. Metodologi Penelitian
Dalam menyusun karya ilmiah ini saya menggunakan metode Deskriptif Hermeneutik yaitu memberikan gambaran umum tentang Kitab Yunus dan Yunus 3: 1 – 10 secara khusus, kemudian menafsirkannya melalui studi eksegetis serta membuat relevansi dan/atau rumusan pesan teologis praktis dari berita kitab Yunus tersebut ke dalam konteks kehidupan gereja saat ini. Cara yang digunakan adalah sebagai berikut:
- Membaca kitab Yunus secara keseluruhan dan mengadakan penelitian pada kitab Yunus 3: 1 - 10 secara khusus.
- Melakukan studi eksegetis: analisis konteks, analisis teks, dan analisis teologis. Untuk metode kerja, saya menggunakan Library Reseurch atau Penelitian Kepustakaan yaitu mempelajari literatur serta karya-karya yang berkaitan dengan pokok yang dibahas.
- Membuat rumusan pesan teologis dan/atau relevansi dari berita tentang Universalisme menurut Yunus 3: 1 - 10 terhadap kehidupan gereja dalam upaya berteologi saat ini dalam konteks pluralitas agama.
E. Sistematika Penulisan
Pengkajian yang saya tuangkan dalam karya tulis ini disusun dalam sistematika sebagai berikut:
PENDAHULUAN : Bagian ini merupakan bagian yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum tentang isi karya ilmiah ini. Di dalamnya berisi latar belakang pemikiran dan alasan pemilihan judul; identifikasi masalah; pembatasan masalah; perumusan masalah; tujuan penelitian; metode penelitian.
BAB I : Bagian ini hendak menguraikan latar belakang umum konteks penulisan kitab Yunus.
BAB II : Bagian ini berisi kerja tafsir terhadap kitab Yunus 3: 1 - 10 untuk memperoleh pengertian yang jelas dan benar tentang Universalisme menurut kitab Yunus.
BAB III : Bagian ini berisi rumusan pesan teologis berita dalam kitab Yunus, khususnya Yunus 3: l – 10 bagi gereja dalam upaya berteologi pada masa kini dalam konteks pluralitas agama.
PENUTUP : Bagian ini berisi kesimpulan umum dari karya ini dan diakhiri dengan saran.
BAB II
UNIVERSALISME MENURUT YUNUS 3: 1 – 10
(Uraian Tafsiran)
(Uraian Tafsiran)
A. Mengapa Membatasi Pada Yunus 3: 1 - 10 ?
Selain beberapa alasan umum yang sudah dikemukakan di bagian pendahuluan, ada beberapa hal lagi yang hendak dikemukakan sehubungan dengan alasan mengapa penelitian ini hanya dibatasi pada Yunus 3: 1 - 10.
Pertama, dari segi struktur atau alur cerita. Dari proses pemanggilan sampai pada proses penyelamatan – yang menjadi dasar saya untuk merumuskan apa yang disebut UNIVERSALISME – tersusun dengan baik di pasal 3 ini. Baik, dalam arti lebih rapi dan sistematis, jika dibandingkan dengan pasal-pasal sebelum dan sesudahnya.
Alur cerita dalam Yunus 3: 1 - 10 dapat dikemukakan seperti berikut: Tuhan memanggil, memberi tugas dan mengutus Yunus untuk pergi ke Niniwe (Yun. 3: 1 - 3a); Yunus pergi ke Niniwe lalu menyampaikan seruan di sana (Yun. 3: 3b - 4); Orang Niniwe meresponi seruan Yunus, mereka percaya kepada Allah lalu bertobat/berbalik dari kejahatannya (Yun. 3: 5 - 9); Pada akhirnya Allah tidak jadi menunggangbalikkan mereka. Allah menyelamatkan Niniwe (Yun. 3: 10). Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa sebenamya Yunus 3: 1 - 10 ini memuat inti berita dari kitab Yunus, yaitu UNIVERSALISME.
Alasan kedua, ialah soal waktu penelitian. Bahwa tentu memerlukan waktu yang lama untuk mendalami dan menguraikan keseluruhan kitab Yunus, serta menuangkannya dalam bentuk tulisan seperti karya ini. Atas pertimbangan itu - dengan tidak mengabaikan pasal-pasal sebelum dan sesudahnya – maka penelitian ini hanya dibatasi pada Yunus 3: 1 - 10.
B. Kedudukan Perikop dalam Keseluruhan Kitab Yunus
Perihal kesatuan kitab Yunus, pada dasarnya sudah dijelaskan di Bab I.C.1. Jadi di sini hanya akan ditambahkan beberapa hal saja. Kalaupun terjadi pengulangan, itu dalam rangka mengingatkan kembali.
Pertama, harus dikatakan sekali lagi bahwa kitab Yunus ini merupakan satu kesatuan yang utuh. Tidak benar kalau kitab ini disusun dari beberapa sumber/penulis. Kitab ini ditulis oleh seorang penulis saja.
Kedua, secara khusus tentang kedudukan kitab Yunus 3: l – 10. Pasal ini tidak berdiri sendiri. Artinya bahwa ia memiliki hubungan atau ketergantungan dengan pasal-pasal sebelum (Yun. 1-2) dan bagian sesudahnya (Yun. 4). Kita tidak mungkin memahami kitab Yunus 3: 1 - 10 tanpa membaca lebih dahulu pasal-pasal sebelum dan kemudian membaca pasal-pasal sesudahnya. Perhatikan hal-hal berikut ini:
Dalam Yunus 1: 1 dikatakan bahwa Firman Tuhan datang kepada ‘Yunus bin Amitai’. Sedangkan dalam 3: 1 dikatakan bahwa Firman Tuhan itu datang kepada ‘Yunus’. Mengapa ayah Yunus yakni Amitai tidak disebut lagi dalam 3: l? Hal ini karena dalam sudut pandang si penulis kitab Yunus bahwa setiap pembaca sudah tahu siapa ayah Yunus, karena sudah disebutkan dalam 1: 1. Kemudian dalam Yun. 3: 2 kita tidak mengetahui “alasan” mengapa Tuhan mengutus Yunus ke Niniwe. Hal ini sebenarnya sudah dijelaskan oleh si penulis dalam 1: 2, bahwa Yunus diutus ke Niniwe untuk berseru kepada mereka “karena kejahatan mereka telah sampai kepada Tuhan”. Alasan itu tidak disebut lagi dalam 3:2 karena dalam sudut pandang si penulis bahwa setiap pembaca pasti sudah tahu akan hal itu sejak membaca 1: 2. Sekurang-kurangnya dalam kedua hal itu Yunus 3: 1 - 10 terkait erat atau memiliki ketergantungan dengan pasal-pasal sebelumnya.
Selanjutnya dalam pasal 3: 1 - 10 kita tidak tahu apa yang dilakukan oleh Yunus (dan apa yang terjadi dengan dia) setelah ia selesai menyampaikan seruan di Niniwe. Nanti dalam pasal 4, khususnya 4: 5 barulah kita mengetahui akan hal itu. Bahwa sebenarnya sesudah Yunus menyampaikan seruan di Niniwe (3: 4) ia segera keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya, lalu mendirikan di situ sebuah pondok dan duduk bernaung di bawahnya sambil menanti apa yang akan terjadi atas kota itu. Pada poin inilah pasal 3 terkait dengan pasal sesudahnya.
C. Pembagian Pokok Pikiran Yunus 3: 1 – 10
Teks Alkitab dari Yunus 3: 1 - 10 dapat dibagi dalam dua pokok pikiran, yaitu:
I. Yunus 3: 1 - 3a : Tuhan memanggil, memberi tugas seta mengutus Yunus (untuk kedua kalinya) ke Niniwe.
II. Yunus 3: 3b - 10 : Yunus menyampaikan nubuat penghukuman kepada Niniwe. Setelah mendengar nubuat itu orang Niniwe bertobat. Oleh karena itu Tuhan tidak jadi melaksanakan hukuman yang direncanakan-Nya. Tuhan menyelamatkan Niniwe.
D. Uraian Tafsiran Yunus 3: 1 - 10
- Yunus 3: 1 - 3a: Tuhan memanggil, memberi tugas serta mengutus Yunus (untuk kedua kalinya) ke Niniwe.
3: 1. “Datanglah Firman Tuhan kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian”
Rumusan kalimat di atas (kecuali tambahan: untuk kedua kalrnya) adalah persis sama dengan rumusan dalam Yun. 1: 1. Rumusan kalimat "Datanglah Firman Tuhan kepada..." dapat kita jumpai pada bagian lain dalam naskah Perjanjian Lama. Misalnya dalam I Sam. 15: 10 (Datanglah Firman Tuhan kepada Samuel); II Sam. 7: 4 (Datanglah Firman Tuhan kepada Natan); I Raj. 6: 11 (Datanglah Firman Tuhan kepada Salomo); I Raj. 12: 22 (Datanglah Firman Tuhan kepada Semaya); I Raj. 13: 20 (Datanglah Firman Tuhan kepada nabi ); I Raj. 16: 1 (Datanglah Firman Tuhan kepada Yehu); 17: 2; 18: 1 (Datanglah Firman Tuhan kepada Elia); Yeh. 1: 3 (Datanglah Firman Tuhan kepada Yehezkiel); Bandingkan lagi dengan Yer. 1: 4; Hos. 1: 1; Yl. 1: 1; Mik. 1: 1; Zef. 1: 1; Hag. 1: 1; Zak. 1: 1.
Jadi boleh dibilang rumusan ini sudah biasa dalam Perjanjian Lama. Bahwa Firman Tuhan tidak timbul begitu saja dalam hati seorang nabi, tetapi ia menerimanya dari Tuhan. Tuhan-lah yang berinisiatif. Demikian juga terhadap Yunus, ia menerima Firman dari Tuhan dan itu atas inisiatif' Tuhan.
Firman Tuhan itu datang kepada “Yunus”. Nama “Yunus” dalam bahasa Ibrani ialah “Yonâ” yang berarti merpati. Rupanya perihal manusia diberi nama binatang merupakan hal yang biasa dalam Perjanjian Lama. Seperti Susi (Bil. 13: 11) berarti kuda jantanku , Kore (I Taw. 9: 19) berarti ayam hutun , Paros (Ezr. 2: 3; Neh. 10: 14) berarti kutu, Hezir (I Taw. 24: 15; Neh. 10: 20) berarti babi, Hulda (II Raj. 22: 14) berarti tikus buta, Debora (Hak. 4: 4) berarti lebah, Kaleb (Bil. 13: 6, 30) berarti anjing. Bahkan menurut H. W. Wolff, ada sekitar empat puluh nama seperti itu dalam Perjanjian Lama[7].
Dalam pasal 1: 1 disebutkan bahwa Yunus adalah anak Amitai. Nama "Yunus bin Amitai" ini persis sama dengan yang disebutkan dalam II Raj. 14: 25. Nabi Yunus yang disebutkan dalam 11 Raj. 14: 25 itu melakukan tugas kenabiannya, sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab I, pada masa pemerintahan Yerobeam II (sekitar 786 - 746 seb. M) di Israel Utara. Nabi itu berasal; dari Gat-Hefer (suatu daerah di sekitar Galilea). Namun dalam Yun. 1: 1 ini tidak disebutkan dari mana nabi itu berasal. Si penulis juga tidak menyebutkan kapan dan di mana nabi itu menerima Firman Tuhan itu (sebagaimana yang terjadi pada nabi-nabi lain). Tentu ini harus dipahami, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Bab I, bahwa si pengarang tidak hendak mengemukakan suatu uraian sejarah yang lengkap dan sistematis tetapi bermaksud menyampaikan suatu pengajaran, sehingga keterangan itu – dari sudut pandang si penulis kitab – tidak begitu penting.
Dalam Yun. 3: 1, Amitai, ayah Yunus tidak disebutkan lagi, hal ini karena sudah disebutkan dalam 1: 1. Bahwa dalam sudut pandang si pengarang, pembaca sudah tahu siapa ayah Yunus.
Pada pasal 1: 9, Yunus mengakui dirinya sebagai "orang Ibrani" kepada para awak kapal yang sedang berlayar bersama-sama dengan dia. Dalam bagian Pendahuluan dan Bab I karya ini telah dijelaskan bahwa Yunus ini mewakili sikap bangsanya, Israel. Namun yang menjadi soal, bahwa dari 48 ayat dalam kitab Yunus tidak satu pun dijumpai kata "Israel". Malah dalam 1: 9 Yunus menyebut diri "Aku orang Ibrani". Mengapa Yunus memakai istilah "Ibrani" dan bukan "Israel" untuk memperkenalkan dirinya ?
"Ibrani", sebenarnya adalah istilah lain dari Israel. "orang Ibrani" sama dengan istilah "orang Israel". Rupanya juga orang-orang asing mengenal bangsa Israel dengan nama "Ibrani" itu. Misalnya, orang Mesir memakai istilah "Ibrani" untuk menyebut "orang Israel" (Lih. Kej. 39: 14, 17; 40: 15; 41: 12; Kel. 1: 16; 2: 6). Demikian juga orang Filistin menyebut istilah itu (I Sam. 4: 6, 9; 13: 19)[8]. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sangat wajar jika Yunus menggunakan istilah "Ibrani" ketika ia memperkenalkan dirinya kepada para awak kapal itu yang adalah orang-orang asing. Dengan ini dapat dimengerti bahwa Yunus benar mewakili "bangsa Israel".
Firman Tuhan itu datang kepada Yunus untuk kedua kalinya. Kalimat ini tidak hendak menjelaskan bahwa ada firman yang isinya lain yang datang pertama kali lalu dilanjutkan dengan firman yang isinya lain dikali yang kedua ini. Kita akan lihat dalam Yun. 3: 2, bahwa isi Firman Tuhan yang pertama dan yang kedua ini yang datang kepada Yunus adalah persis sama. Kalimat itu lebih menjelaskan kepada pembaca bahwa, sekali lagi, firman ini adalah datang atas prakarsa atau inisiatif Tuhan Allah. Ketika Yunus pertama kali dipanggil dan diutus, ia melarikan diri "jauh dari hadapan Tuhan" (1: 3). Tapi dari 48 ayat dalam kitab Yunus ini, kita tidak menjumpai keterangan bahwa Tuhan meminta pertanggungjawaban Yunus atas apa yang diperbuatnya. Tuhan adalah panjang sabar (4: 2). Untuk kedua kalinya Tuhan berinisiatif memanggil dan mengutus Yunus sebagai nabi-Nya.
3: 2. "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah seruan yang Kufirmankan kepadamu"
Rumusan kalimat ini juga hampir sama dengan rumusan dalam Yunus 1: 2. Dalam Yun. 1: 2 kita jumpai struktur kalimat: "Bangunlah, pergilah..., berserulah…". Sedangkan dalam 3: 2 ini strukturnya adalah: "Bangunlah, pergilah..., sampaikanlah... ". Dalam terjemahan LAl, kata perintah yang ketiga di masing-masing ayat kelihatannya sedikit berbeda. 1: 2 menggunakan "berserulah", sedangkan dalam 3: 2, digunakan "sampaikanlah". Sesungguhnya makna dari kedua kata ini sama. Kata ini sebenarnya dalam bahasa Ibrani persis sama yakni qara. Jadi sebenarnya tidak ada persoalan untuk hal ini.
Firman Tuhan yang datang itu tidak hanya merupakan panggilan tetapi juga pengutusan dan sekaligus penugasan. Yunus dipanggil, "bangunlah", ia diutus "pergilah", serta diberi tugas "berserulah/sampaikanlah".
Yunus diutus ke Niniwe. Niniwe (pernah) merupakan kota terkemuka dan ibu kota terakhir kerajaan Asyur, tepatnya pada masa pemerintahan Sanherib (705 - 681 seb.M). Niniwe terletak di sebelah timur sungai Tigris, di Mesopotamia Utara, dekat kota Mosul, Irak sekarang[9].
Sekitar abad ke-9 seb. M, raja Asyurnasipal II (884 - 859 seb.M) dan Shalmanassar III (859 - 823 seb.M) berkuasa dan bertahta di Niniwe. Pada masa-masa inilah Asyur berkali-kali mengalami masa kejayaannya. Ia menjadi bangsa yang kuat dan berkuasa. Diperkirakan pada abad ke-9 ini ia menyerbu Palestina serta negara-negara kecil di sekitarnya. Pada masa kekuasaan Sanherib, kota Niniwe sempat diperkaya dengan kuil-kuil dan tembok serta istana yang lebih megah. Akan tetapi sekitar tahun 614 seb.M bangsa Media berhasil merebut kota Asyur, dan tahun 612 seb.M angkatan perang gabungan dari Media dan Babilonia berhasil merebut Niniwe. Sekitar tahun 610 seb.M, sisa-sisa bangsa Asyur dikalahkan seluruhnya[10].
Bangsa Asyur adalah bangsa yang "berkepercayaan lain" dari Israel. Mereka menyembah banyak dewa. Bahkan tiap-tiap kota mempunyai dewanya sendiri. Asyur adalah nama dari dewa kota Asyur, bahkan ia merupakan raja dari semua dewa. Isytar adalah dewi kota Niniwe. Setiap raja Asyur yakin bahwa dewa-dewi mereka, terutama dewa Asyur berkuasa memberikan kemenangan kepada mereka terhadap musuh-musuh mereka. Tidak heran kalau bangsa Asyur memperlakukan musuh-musuh mereka sebagai orang-orang yang memberontak terhadap dewa-dewa Asyur dan menghukum mereka karena kemurtadan itu.
Raja Sargon II (722 - 705 seb.M), dalam suatu peninggalan sejarah, pernah menulis ketika menghukum musuh-musuhnya sebagai berikut: "Atas perintah dewa Asyur, tuhanku, aku telah mengalahkan mereka". Gagasan yang sama pernah ditulis oleh Sanherib (705 - 681 seb.M) pada sebuah prasasti sebagai berikut: "Dengan pertolongan Asyur, tuhanku, aku menentang mereka dan mengalahkan mereka"[11]. Pada masa kekuasaan Sanherib, Asyur telah menjadi musuh bebuyutan bagi negara-negara di sekitarnya, termasuk Israel.
Pada waktu kitab Yunus ditulis, Niniwe sudah lama tidak ada. Di sini sepertinya si penulis kitab mengingatkan kenangan pahit masa lalu ketika mereka menghadapi kebrutalan dan teror bangsa Asyur/Niniwe, yang telah menimbulkan kebencian berkepanjangan dari bangsa Israel itu.
Niniwe disebut kota yang besar. Dalam 1: 2 kita pun telah menjumpai istilah ini. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab I si pengarang memang sangat sering memakai kata besar, bahkan sampai empat belas kali kata ini digunakan dalam kitab
Yunus (Lih. Bab I.C.2). Secara khusus sampai empat kali Niniwe disebut kota yang besar (Yun. 1: 2; 3: 2, 3; 4: 11).
Kepada Niniwe itu, Yunus ditugaskan untuk menyampaikan seruan yang difirmankan Tuhan kepada Yunus. Penugasan ini pun, telah diterangkan (oleh si penulis) dalam 1: 2 "berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku". Dari kedua ayat ini dapat kita perhatikan beberapa hal: Pertama, pada 1: 2 penugasan terhadap Yunus itu lebih menekankan alasan. Bahwa Yunus harus berseru "Karena kejahatannya (Niniwe) telah sampai kepada-Ku", sedangkan dalam 3: 2 ini penugasan terhadap Yunus itu lebih menekankan pada isi. Bahwa Yunus harus menyampaikan kepada Niniwe "seruan yang Ku-firmankan kepadamu".
Hal kedua, yang dapat kita perhatikan adalah bahwa dalam 1: 2, sekali lagi, setiap pembaca dapat mengerti mengapa Yunus harus diutus (untuk berseru) ke Niniwe yaitu karena kejahatan mereka telah sampai kepada Tuhan. Dalam 3: 2 pembaca tidak menjumpai alasan itu. Di sinilah justru harus dipahami bahwa kitab Yunus merupakan satu kesatuan yang utuh. Jadi tidak benar bahwa kitab Yunus ini disusun dari beberapa sumber. Dalam sudut pandang si penulis kitab bahwa setiap pembaca pasti sudah tahu alasan mengapa Yunus harus pergi ke Niniwe dan menyampaikan seruan yang difirmankan Tuhan kepada Yunus.
Si penulis tidak menjelaskan isi seruan itu dalam ayat ini. Kita baru akan menjumpai isi seruan itu dalam 3: 4. Yunus harus menyampaikan seruan. Kata seruan ini diterjemahkan dari kata dalam bahasa Ibrani qeriâ. Kata ini merupakan kata Ibrani-muda dan hanya di sini kata ini terdapat dalam naskah Ibrani Perjanjian Lama. Sekali lagi, kita menemukan petunjuk tentang waktu penulisan kitab Yunus yang cukup muda.
Yunus harus menyampaikan seruan yang difirmankan Tuhan kepadanya. Jadi isi seruan itu bukan menurut kemauan Yunus tetapi harus menurut atau sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan. Menurut atau sesuai kemauan Tuhan. Satu hal lagi, di sini penulis kitab menonjolkan otoritas Tuhan Allah.
3: 3a. "Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Tuhan"
Dalam 1: 3 Yunus segera meresponi panggilan dan pengutusan dari Tuhan, tetapi justru dengan cara "melarikan diri... jauh dari hadapan Tuhan". Namun sekarang Yunus menunjukkan ketaatan atau kepatuhan kepada Tuhan. Inilah yang harus dilakukan oleh seorang abdi Tuhan Allah. Sekarang Yunus bangun/bersiap dan pergi ke Niniwe, sesuai dengan Firman Tuhan (LAI menerjemahkan: "Firman Allah", padahal dalam naskah Ibrani memakai Yahweh untuk menyebut Yang Ilahi). Tuhan berfirman kepada Yunus untuk pergi ke Niniwe, suatu bangsa "yang berkepercayaan lain" dari Israel (:Yunus), suatu bangsa yang dibenci oleh Israel, suatu bangsa yang memusuhi Israel (:Yunus).
Mengomentari Yun. 3: 1 - 3a ini, Profesor James Limburg mengatakan bahwa ketika Tuhan mengutus/menugaskan kembali Yunus untuk ke Niniwe (padahal yang sudah pernah menyatakan ketidaksetiaannya dengan cara melarikan diri jauh dari hadapan Tuhan) ini justru merupakan bentuk perhatian yang mendalam dan luar biasa dari Tuhan terhadap bangsa-bangsa non-Israel dalam hal ini Niniwe[12].
II. Yunus 3: 3b - 10 : Yunus menyampaikan nubuat hukuman kepada niniwe. Setelah mendengar nubuat itu orang Niniwe bertobat. Oleh karena itu Tuhan tidak jadi melaksanakan hukuman yang direncanakan-Nya. Tuhan menyelamatkan Niniwe.
Bagian selanjutnya (3: 3b - 10) lebih menaruh pehatian utama pada apa yang terjadi di Niniwe. Pertama, seruan Yunus terhadap Niniwe (3: 3b - 4), kemudian reaksi Niniwe terhadap seruan itu (3: 5 - 9). Yang terakhir adalah respon/tanggapan Tuhan Allah atas apa yang dilakukan oleh Niniwe (3: 10).
3: 3b. "Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya"
Kata kerja adalah dalam kalimat ini sebenarnya diterjernahkan dari kata dalam bahasa Ibrani hayeta. Kata hayeta dalam bahasa Ibrani adalah bentuk "perfek" atau menyatakan masa lampau (NRSV dan King James Version menerjemahkan: "Was"). Dalam frase seperti itu biasanya tidak ada kata kerja, kecuali dianggap perlu untuk menyatakan/menekankan waktunya. Dengan kata lain bahwa kata kerja adalah dalam kalimat ini mengisyaratkan bahwa kota Niniwe sudah tidak ada lagi saat penulis menulis kitab ini.
Telah dijelaskan bahwa Niniwe telah musnah sejak tahun 621/610 seb.M. Jadi, sekali lagi, di sini kita mendapat petunjuk mengenai waktu penulisan kitab Yunus. Bahwa saat kitab ini ditulis kota Niniwe sudah tidak ada lagi.
Sebelum ayat ini, telah dua kali Niniwe disebut kola besar (1:2; 3: 2). Seperti telah dijelaskan bahwa si pengarang sepertinya sangat gemar menggunakan kata besar (Ibr. Gadol). Tapi di sini besamya kota Niniwe lebih ditekankan lagi: "mengagumkan besarnya". Bahkan dalam teks Ibrani dipakai istilah gedolah le’lohim yang berarti: "besar di hadapan Allah" atau "besar bagi Allah" (KJV: "great to God"). Dengan ini bisa dimengerti bahwa (dari sudut pandang si penulis kitab) Niniwe tidak saja besar tetapi begitu berartinya ia di hadapan Allah. Karena begitu berartinya Niniwe di hadapan Allah sehingga Ia mengutus Yunus ke Niniwe untuk menyampaikan Firman-Nya.
Ukuran kota Niniwe masih dijelaskan lagi dengan keterangan: "Tiga hari perjalanan luasnya". Alkitab NRSV menerjemahkan sedikit berbeda dengan terjemahan LAI ini, yakni "Tiga hari peijalanan melintasinya". Agaknya sejalan dengan terjemahan LAI itu sehingga ada yang mengemukakan bahwa lintang kota Niniwe itu sekitar 75 Km. Padahal menurut hasil penelitian ahli ilmu purbakala (arkheolog), lintang kota Niniwe tidak lebih dari 4 Km[13]. Jadi ukuran kota Niniwe menurut hasil penelitian ahli ilmu purbakala tidak begitu sesuai dengan apa yang dilukiskan dalam ayat ini. Barangkali juga inilah yang menyebabkan sehingga ada yang menafsirkan bahwa "tiga hari perjalanan luasnya" berarti bahwa tiga hari diperlukan untuk mengelilingi kota Niniwe tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan di sini bukan hanya kota Niniwe saja, melainkan meliputi juga wilayah-wilayah di sekitarnya[14].
Kita tidak boleh lupa (sebagaimana beberapa penjelasan sebelum ini), bahwa si pengarang kitab Yunus ini tidak bermaksud menyajikan suatu peristiwa dalam sejarah, tetapi mau menceritakan tentang sebuah kota yang amat besar. Bahkan besar di hadapan Allah. Itu sebabnya Profesor Hans Walter Wolff mengatakan bahwa pembaca tidak harus menghitung-hitung apakah tiga hari perjalanan luasnya sama dengan keadaan yang sebenarnya atau tidak, tetapi seharusnya kagum dengan besarnya kota itu[15]. Sungguh suatu hal yang patut dibanggakan bahwa Alkitab terjemahan LAI memperdengarkan dengan baik maksud penulis kitab Yunus bahwa Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya.
3:4. "Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalan jauhnya, lalu berseru: empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan"
Ayat ini memberi keterangan bahwa sekarang Yunus mulai melaksanakan tugasnya di Niniwe. Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa lintang kota Niniwe adalah tiga hari perjalanan jauhnya. Itu berarti sekarang Yunus sudah berjalan sepertiga dari lintang kota itu. Tentu muncul pertanyaan, mengapa Yunus hanya masuk sampai sejauh sehari perjalanan ? Maksudnya bahwa setelah satu hari perjalanan, sekarang Yunus berada kira-kira di tengah atau di pusut kota Ninwe. Dengan pertimbangan bahwa dari tengah/pusat kota itu, seruan yang disampaikati oleh Yunus itu dapat disebarkan dengan cepat ke seluruh pelosok kota[16]. Yunus tidak harus menempuh tiga hari perjalanan untuk melintasi kota Niniwe. Akan kita lihat selanjutnya bahwa hanya dalam satu hari saja seruan yang disampaikan oleh Yunus sudah memberi pengaruh luar biasa bagi penduduk Niniwe, yakni membawa mereka pada pertobatan.
Hal yang lebih besar lagi bahwa isi seruan yang membawa orang Niniwe pada pertobatan itu, hanya terdiri dari delapan kata :"Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan". Seruan ini hanya berisi berita penghukuman yang akan terjadi dalam batas waktu yang telah ditentukan.
Cara Yunus menyampaikan seruan itu agak berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh nabi-nabi yang lain, misalnya dalam Amos 1: 3 - 5, 6 - 8 dst; Yes. 1: 21 - 26; 3: 16 - 4: 1. Bahwa nabi-nabi lain ketika menyampaikan seruan hukuman selalu disertai dengan "alasan". Memang dalam konteks kitab Yunus, alasan mengapa Yunus diutus ke Niniwe yaitu karena kejahatan mereka telah sampai kepada Tuhan (Yun. 1: 2). Namun alasan itu tidak disampaikan oleh Yunus kepada Niniwe. Mengapa Yunus tidak menyampaikan alasan itu ? Atau, mengapa Yunus hanya semata-mata menyampaikan berita kehancuran yang akan terjadi ?
Hal ini harus dimengerti bahwa dalam kitab yang berisi pengajaran ini, si penulis hendak menonjolkan perbedaan besar antara Tuhan dengan Yunus. Tuhan menghendaki supaya orang Niniwe selamat. Itu sebabnya Ia mengutus Yunus untuk pergi dan berseru di Niniwe. Sementara itu, sikap Yunus, menurut Oesterley dan Robinson dalam buku An Introduction to The Books of The Old Testament, sebagaimana yang dikutip oleh Aalders, merupakan sikap yang mewakili bangsanya yakni Israel/Yahudi yang eksklusif dan tertutup serta partikularistis. Selalu berpikir sempit dan memandang rendah bangsa non-Yahudi. Sehingga tidak menghendaki keselamatan Niniwe. Yunus tidak menghendaki orang Niniwe menerima kasih karunia dari Tuhan Allah. Bahkan Yunus merupakan personifikasi dari partikularisme Yahudi[17].
Empat puluh hari adalah rentang waktu yang sering kita jumpai dalam Alkitab. Bandingkan beberapa peristiwa dalam ayat-ayat berikut ini: Lamanya air bah ialah empat puluh hari (Kej. 7:4,12,17); Musa berada di gunung Sinai selama empat puluh hari untuk menerima pengajaran dari Tuhan (Kel. 24:18; 34:28; Ul. 9:9); Waktu yang ditempuh oleh pengintai-pengintai dari Israel untuk menjalankan misinya adalah empat puluh hari (Bil. 13:25 band. 14:34); Waktu perjalanan nabi Elia ke gunung Horeb adalah empat puluh hari empat puluh malam (I Raj. 19:8); Yesus berpuasa selama empat puluh hari (Mat. 4:2). Rupanya waktu empat puluh hari merupakan waktu penghukuman, pencobaan, puasa dan pemurnian[18].
Seperti telah dikatakan bahwa isi seruan yang hanya memuat berita penghukuman itu merupakan dampak dari sikap Yunus yang partikularistis. Tetapi sebenarnya ada hal yang luar biasa yang terkandung di dalamnya. Bahwa waktu empat puluh hari lebih merupakan bukti kasih karunia Tuhan bagi Niniwe. Tuhan memberi waktu empat puluh hari bagi Niniwe untuk bertobat atau berbalik dari kejahatan mereka. Juga untuk menyesali dosa-dosa mereka. Tuhan tidak menghendaki kematian orang-orang dan semua yang hidup di Niniwe. la menghendaki mereka tetap hidup. Dengan tujuan itulah la mengutus nabi-Nya ke Niniwe. Jadi boleh dibilang bahwa nubuat yang disampaikan oleh Yunus adalah nubuat bersyarat (kondisionil). Bahwa kalau Niniwe tidak bertobat maka mereka akan ditunggangbalikkan. Jadi empat puluh hari bukanlah suatu suatu ancaman yang tak terelakkan, melainkan suatu peringatan untuk melakukan perbaikan.
Kemudian, soal bahasa yang dipakai oleh Yunus ketika menyampaikan seruan itu di Niniwe. Apakah Yunus menggunakan bahasa Aram, sebagai bahasa internasional pada waktu kitab Yunus ditulis ? Ataukah bahasa Ibrani ? Ataukah bahasa Asyur (Niniwe) dimana ia sedang berseru ? Ataukah Yunus menggunakan seorang ahli bahasa/penerjemah (band. Kej. 42:23)? Cerita ini tidak menjelaskan secara rinci akan hal itu.
Menurut Rudolph dalam buku Joel, Amos, Abadja, Jona: kommentar zum Alten Testament, seperti yang dikutip oleh James Limburg, bahwa Allah yang mengacaukan bahasa manusia (Kej. 11) dapat juga melihat akan hal itu dan Allah dapat membuat orang lain (Niniwe) mengerti sekali pun bahasa (yang diucapkan Yunus) itu berbeda dengan bahasa mereka (band. Kis. 2)[19]. Namun sekali lagi kita harus ingat bahwa si penulis tidak bermaksud menyajikan uraian sejarah yang sistematis. Itu sebabnya ia tidak begitu peduli dengan masalah ini. Kitab ini mau membawa suatu pengajaran.
3: 5. "Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung"
Ayat 5 ini sebenarnya merupakan kesimpulan dari berbagai hal yang diuraikan dalam ayat-ayat selanjutnya. Atau dengan kata lain, ayat 6 - 9 merupakan uraian rinci dari apa yang disebutkan dalam ayat 5 ini.
Reaksi yang ditunjukkan oleh orang Niniwe terhadap seruan yang disampaikan Yunus itu sangatlah mengesankan. Kota yang menurut Nahum adalah kota penindas, penumpah darah, sundal (Nah. 3: 1, 4) ternyata percaya kepada Allah. Kata percaya ini diterjemahkan dari kata Ibrani aman yang juga dapat diterjemahkan dengan: beriman atau yakin. Beriman berarti kehidupan yang bergaul dengan Allah. Ini merupakan ungkapan pengakuan (confidence) orang Niniwe, sebagai reaksi dari perbuatan-perbuatan Allah.
Waktu empat puluh hari itu tidaklah disia-siakan oleh orang-orang Niniwe. Mendengar seruan yang berisi berita penghukuman yang akan terjadi tidak membuat orang Niniwe bergegas untuk mengungsi atau menyingkir dari Niniwe. Tetapi membuat mereka segera berpuasa. Berpuasa adalah tanda pertobatan, pertapaan, perkabungan. Sejalan dengan ini H. W. Wolff mengatakan bahwa kata Ibrani tsom yang diterjemahkan dengan "puasa" tidak selalu dalam pengartian tidak makan. Kata ini juga dipakai untuk menyatakan masa perkabungan dan penyesalan[20]
Baik orang dewasa maupun anak-anak, menunjukkan bahwa semua orang Niniwe, tidak ada yang terkecuali, semuaya mengambil bagian dalam puasa itu. Jika kita membaca teks Ibrani dari ayat ini, maka kita akan menjumpai kata mi-gedolam. Secara harafiah kata ini berarti: dari yang besar-besar. LAI menerjemahkan dengan lebih baik yakni: dari orang-orang dewasa. Namun yang hendak dikatakan bahwa di sini, sekali lagi, kita menjumpai kata gadol yang berarti "besar", yang memang sangat senang dipakai oleh penulis kitab Yunus ini. Hal ini sudah dijelaskan di bagian sebelumnya. Sebagai tanda pertobatan, perkabungan dan penyesalan itu, mereka juga mengenakan kain kabung. Kata yang diterjemahkan dengan "kain kabung", dalam bahasa Ibrani disebut saq. Kata saq berarti karung, goni, sak. Dari berbagai petunjuk dalam Alkitab kita dapat mengerti bahwa kain kabung dipakai sebagai tanda perkabungan terhadap orang mati (Kej. 37: 34; II Sam. 3: 31; Yl. 1: 8) atau tanda ratapan terhadap musibah pribadi atau nasional (Ayb. 16: 15; Rat. 2: 10; Est. 4: 1) atau sebagai tanda penyesalan atas dosa. (I Raj. 21: 27; Neh. 9: 1).
Satu hal lagi yang menarik untuk dicatat bahwa si penulis kitab dengan kritis dan sangat berhati-hati, mulai dari ayat 5 ini (sarnpai ayat 9) menggunakan llama Elohim untuk menyebut "Yang Ilahi" dan bukan Yahweh, ketika berbicara tentang Niniwe. Rupanya hal ini karena orang Niniwe memang tidak mengenal nama Yahweh sebagai sebutan "Yang Ilahi". Elohim memang merupakan sebutan yang umum dikenal untuk menyebut "Yang Ilahi" di masa itu. Jadi wajarlah jika penulis kitab ini menggunakan nama Elohim itu[21].
3: 6. "Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu".
Telah dijelaskan di atas bahwa mulai ayat 6 ini sampai ayat 9 sebenarnya merupakan uraian rinci dari apa yang telah dikemukakan di ayat 5. Atau dengan kata lain, ayat 6 sampai 9 bukan merupakan kelanjutan dari peristiwa yang diceritakan di ayat 5 tetapi merupakan uraian peristiwa yang terjadi di Niniwe. Inti dari peristiwa itulah yang diceritakan dalam ayat 5.
Kemudian yang harus dijelaskan lagi, seperti telah dijelaskan dalam Bab I.C.2, bahwa Yun. 3: 6 – 9 (demikian juga dengan 1: 5b, 10; 4: 5-9) harus dibaca sebagai flashback atau upaya penyorotan kembali. Ini memang merupakan salah satu ciri khas kitab Yunus. Bahwa suatu peristiwa yang sebenarnya telah terjadi sebelumnya tetapi barulah kemudian dengan sengaja diceritakan oleh si penulis kitab Yunus.
Perhatikan misalnya Yun. 1: 5b "tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak". Jika kita membaca mulai dari ayat-ayat sebelumnya, kita akan mendapati bahwa sebenarnya peristiwa ini telah terjadi sebelumnya tetapi nanti kemudian diceritakan oleh si penulis. Lihat juga Yun. 1: 10 dan 4: 5 - 9. Ini, sekali lagi, merupakan penyorotan kembali.
Jadi ayat 6 - 9 ini bisa saja dibaca dan ditempatkan di antara ayat 4 dan 5 (sesudah ayat 4 dan sebelum ayat 5). Atau dengan kata lain, ayat 5 itu bisa saja ditempatkan sesudah ayat 6 - 9 sehingga ayat 5 itu dibaca sebagai kesimpulan dari ayat 6 - 9.
"Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe". Kabar atau berita yang dimaksud di sini bukanlah kabar/berita yang diceritakan di ayat 5 yakni tentang tindakan yang diambil oleh orang Niniwe, yakni berpuasa dan berkabung, setelah mendengar seruan Yunus tersebut. Hal ini keliru. Karena di satu pihak, ayat 6 - 9 harus dibaca sebagai flashback, di lain pihak harus dimengerti bahwa tindakan berpuasa dan berkabung (dalam ayat 5) baru terjadi setelah ada perintah raja dan para pembesarnya (ayat 6 - 9). Yang dimaksud dengan "kabar" di sini adalah nubuat yang disampaikan Yunus (dalam ayat 4).
Kata yang diterjemahkan dengan "kabar itu" dalam teks LAI, sebenarnya diterjemahkan dari kata Ibrani hadabar, dari kata dasarnya dabar, yang dapat berarti: firman, hal, kata, perkataan. Jadi kita bisa menerjemahkan ayat 6 ini sebagai berikut: "Setelah sampai frrman itu kepada raja kota Niniwe... ", sehingga kita dapat memahami bahwa kabar yang sampai kepada raja kota Niniwe itu bukan sekedar kabar biasa tetapi kabar yang isinya adalah "firman" (KJV: "Word") yang disampaikan, yang diserukan oleh Yunus tersebut.
Sebagaimana Yunus (telah) menerima Firman Tuhan (1: 1; 3:1), sekarang Firman Tuhan itu (telah) sampai kepada raja (dan seluruh penduduk) kota Niniwe.
Penulis kitab Yunus tidak memberikan keterangan yang jelas mengenai raja kota Niniwe itu. misalnya menyangkut nama dan masa pemerintahannya. Pengistilahan raja kota Niniwe juga, menurut beberapa ahli, kurang tepat. Dalam sejarah Asyur, raja-raja selalu memerintah atas seluruh kerajaan Asyur sehingga disebut raja Asyur (Nah. 3: 18; Yes. 8: 7). Bukan raja kota Niniwe. Haruslah kita ingat, sekali lagi, bahwa penulis kitab Yunus tidak bermaksud menyajikan suatu peristiwa dalam sejarah. Oleh karena kitab ini bersifat pengajaran, maka agaknya penulis tidak memberi perhatian pada persoalan itu. Penulis kitab justru menguraikan dengan rinci tentang sikap yang diambil oleh raja itu. Bahwa setelah mendengar seruan yang disampaikan Yunus, raja segera turun dari singgasananya, menanggalkan jubahnya, menyelubungkan/mengenakan kain kabung dan duduk di abu. Sejalan dengan itu, bersama para pembesarnya, mengeluarkan dekrit supaya seluruh rakyat segera bertobat.
Dengan ini sebenamya si penulis hendak menyampaikan bahwa sikap bangsa asing itu merupakan demonstrasi kepada umat Allah yakni Israel tentang bagaimana seharusnya kelakuan mereka sebagai (yang menyebut diri) umat Allah[22].
Dari segi prilaku, raja kota Niniwe (dan seluruh rakyatnya) rupanya dilukiskan sebagai antitype dari Yoyakim (dan rakyatnya)[23]. Sebagaimana kita ketahui dari Yeremia 36: 3, 20 - 25[24], di Yerusalern tidak ada raja yang bersedia turun dari singgasananya sebagai respon terhadap seruan Yeremia tentang bencana. Yoyakim tetap duduk, malahan melemparkan gulungan-gulungan yang berisi firman (yang disampaikan oleh Yeremia) itu ke dalam api (Yer. 36: 22). Dia bersama rakyatnya tidak bersedia menanggalkan pakaian atau jubah mereka (Yer. 36: 24), ataupun mengeluarkan perintah untuk berpuasa sebagai tanda pertobatan, juga tidak dilakukannya. Yeremia berharap bahwa orang Yahudi dapat mendengar firman itu dan menyesali/bertobat dari kejahatan sehingga Allah dapat menarik rencana-Nya untuk menghukum Yehuda (Yer. 36: 3, 7). Namun itu tidak terjadi. Bencana menimpa manusia dan ternak (Yer. 36: 29). Jelas keadaan ini berbeda dengan yang terjadi di Niniwe.
Raja mendahului upaya pertobatan di Niniwe. la memenuhi fungsinya sebagai penguasa yang menjadi teladan. Dengan cara sederhana namun penuh makna penulis menggambarkan sikap dari raja kota Niniwe itu. Salah satu hal yang dapat menunjukkan kewibawaan dan kekuasaan seorang raja adalah ketika ia mengenakan
jubah kebesarannya dan duduk di atas singgasananya. Tetapi sekarang raja kota Niniwe itu bersedia turun dari singgasananya dan menanggalkan jubahnya. Ia sekarang mengenakan karung atau kain kabung dan duduk di abu. Seperti telah dijelaskan bahwa ini adalah tanda penyesalan dan perkabungan (bnd. Ayb. 2: 8, 13; Yes. 47: 1; Yer. 6: 26).
Di sini si penulis kitab Yunus menunjukkan bahwa sebenarnya sikap raja itu merupakan tindakan penghinaan atas dirinya sendiri. Tetapi di sinilah justru Tuhan meninggikan dia (bnd. I Sam. 2: 8; Mzr. 113: 7) dan bahkan menyelamatkan dia dan seluruh rakyatnya (lih. Tafsiran ayat 10). Sekali lagi, di sini raja sebagai penguasa menjadi model atau contoh bagi rakyatnya. Ia tidak tinggi hati[25]. la takut akan Allah. Sikap inilah yang kemudian dicontohi rakyatnya.
3: 7. "Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air"
Sekalipun raja telah duduk di atas abu, namun dengan penuh otoritas ia (bersama para pembesarnya) mengeluarkan perintah. Kata "perintah" ini diterjemahkan dari kata taam. Seperti telah dijelaskan dalam Bab 1. B. 2, bahwa taam ini merupakan bahasa Aram. Hanya di sini kata ini terdapat dalam naskah Ibrani Perjanjian Lama. Kita bisa menjumpai kata itu dalam Ezra (5: 3) dan Daniel (3: 10). Jadi di sini, sekali lagi, kita mendapat petunjuk mengenai waktu penulisan kitab Yunus yang cukup muda.
Kata taam tidak hanya berarti perintah biasa. Istilah dekrit sangat tepat untuk padanan kata ini. Dekrit berarti suatu perintah atau keputusan atau ketetapan yang dikeluarkan oleh kepala negara (atau pengadilan) yang sifatnya mengikat dan harus segera dilaksanakan. Dengan demikian kita dapat memahami bahwa yang dikeluarkan oleh raja kota Niniwe itu bukan perintah biasa. Tapi merupakan dekrit, sehingga tidak ada yang terkecuali. Semuanya harus patuh pada perintah itu.
Dalam ayat ini juga kita membaca bahwa perintah itu dikeluarkan atas nama raja dan para pembesarnya. Sebagaimana telah dijelaskan sebenarnya baik di Asyur maupun di Israel tidak pernah menjadi suatu kebiasaan bahwa salah satu perintah atau keputusan dikeluarkan atas nama raja dan para pembesarnya. Ini baru menjadi biasa pada zaman Persia[26]. Sebagai contoh, Ezra 7: 14; Est. 1: 13; Dan. 6: 18. Di sini kita mendapat petunjuk lagi mengenai waktu penulisan kitab Yunus. Bahwa kitab ini ditulis pada zaman Persia (sekitar tahun 400 - 300 seb.M).
Isi dekrit itulah yang kita baca dalam ayat 7 - 8. Di sini juga kita melihat bahwa si penulis kitab menggunakan gaya bahasa yang melebih-lebihkan (hiperbola) untuk menerangkan isi dekrit itu. Perintah itu ditujukan kepada "manusia dan temak". Dalam dekrit itu penduduk Niniwe harus melaksanakan (sekurang-kurangnya) empat hal dalam rangka pertobatan, yakni: (1) tidak boleh makan dan minum apa-apa (ayat 7); (2) memakai kain kabung (ayat 8); (3) berseru dengan keras kepada Allah (ayat 8); (4) berbalik dari kejahatan (ayat 8).
Allah adalah pencipta semesta. Jadi tidaklah mengherankan kalau di sini si penulis kitab mengemukakan pertobatan semesta, yakni manusia dan ternak, demi keselamatan semesta.
Manusia dan ternak tidak boleh mukan apa-apa. Kata yang diterjemahkan dengan "makan" dalam teks LAI sebenarnya berasal dari bahasa Ibrani taam. Kata ini sebunyi dengan kata yang diterjemahkan dengan "perintah/dekrit". Taam dalam bahasa Ibrani dapat berarti "mengecap" atau "merasai sedikit". Dengan ini kita dapat memahami lebih jauh bahwa orang Niniwe (dan ternak mereka) bukan hanya tidak boleh makan tapi bahkan tidak boleh mengecap atau merasai sedikit pun dari makanan dan air. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa puasa memang merupakan hal yang selalu dilakukan dalam rangka permohonan atau pun tanda penyesalan atau ratapan atau tanda pertobatan (bnd. I Sam. 31: 13; II Sam. 12: 16: I Raj. 21: 27; Yl. 1: 14).
3: 8. "Haruslah semuanya, manusia dan ternak berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya"
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa dari segi prilaku, Niniwe merupakan antitype dari Israel atau Yehuda. Orang-orang di Yerusalem sepertinya telah menjadi tuli terhadap Firman Tuhan atau seruan nabi-nabi. Sementara di Niniwe, ternak-ternak pun bersedia menyatakan kepatuhan dan penghormatan kepada Allah. Ini sebenarnya merupakan kritik terhadap Israel.
"Manusia dan ternak berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah". Ini hanya salah satu dari sekian banyak ayat Alkitab yang menerangkan tentang solidaritas anatara manusia dan hewan. Mereka harus taat kepada-Nya. Hewan-hewan pun merintih dan berseru kepada Allah dan Ia mendengar suara mereka, baik manusia maupun hewan (bnd. Yl. 1: 18, 20; Mzr. 104: 27 - 30; 145: 15, 16; 147: 9; Luk. 12: 24). Bahkan kitab Yunus ini ditutup dengan pernyataan tentang perhatian Allah terhadap hewan/ternak-ternak (4: 11). Allah yang menciptakan mereka, baik manusia maupun hewan. Untuk itu mereka harus taat kepada-Nya. Mereka mengenakan kain kabung sebagai tanda penyesalan dan pertobatan.
Hal keempat yang harus dilaksanakan sebagai tanda pertobatan menurut dekrit itu ialah membaharui diri dengan cara: "berbalik dari tingkah laku yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukan". Hal ini tentu hanya berlaku bagi manusia saja. Jadi hewan dikecualikan. Karena kata yang diterjemahkan dengan "masing-masing" dalam teks LAI, sebenarnya diterjemahkan dari kata Ibrani isy yang berarti "orang" atau "tiap orang". Alkitab KJV menerjemahkan kata isy ini dengan "each man" (: tiap orang). Dengan demikian bagian ayat ini bisa diterjemahkan: "... serta haruslah setiap orang berbalik dari tingkah lakunya yang jahat... ".
Kata "berbalik" dalam ayat ini diterjemahkan dari kata Ibrani sub yang dapat juga berarti "bertobat". Bahwa orang Niniwe harus mengubah cara hidupnya yang jahat dan berpaling kepada Allah. Niniwe memang dikenal sebagai penindas yang kejam dan sangat brutal terhadap bangsa-bangsa lain. Mereka disebut penunpah darah (bnd. Nah. 3; Am. 3: 9, 10). Kata Ibrani hamas yang diterjemahkan dengan kekerasan sebenarnya menunjuk pada kejahatan sosial dalam aneka segi. Itu sebabnya Bewer mengatakan bahwa dosa Niniwe adalah dalam hal moral maupun sosiah[27]. Inilah perilaku yang harus dihentikan.
3: 9. "Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang menyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa"
Rumusan kalimat "siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal" merupakan ungkapan yang sama dengan ungkapan yang terdapat dalam Yoel 2:14a. Ini merupakan ungkapan pengharapan. Di sini otoritas Allah betul-betul diangkat oleh si penulis. Raja kota Niniwe tahu bahwa pertobatan, penyesalan dan pembaharuan hidup belum memberi jaminan untuk memperoleh keselamatan. Seperti ungkapan populer, manusia mengira-ngira jalan tapi Allah jugalah yang menentukan. Belum ada kepastian tetapi tentu sangatlah wajar jika ia mengungkapkan pengharapan: "siapa tahu".
Pengharapan orang Niniwe bahwa Allah akan berbalik, menyesal, serta berpaling dari rencana-Nya untuk menunggangbalikkan kota itu. Kata kerja berbalik dan berpaling sebenarnya berasal dari kata Ibrani yang sama yakni sub. Di ayat 8 kita telah membaca bahwa orang Niniwe disuruh untuk berbalik. Di ayat 9 ini mereka berharap bahwa Allah akan berbalik. Sekali lagi ini bukan ungkapan permohonan tetapi ungkapan harapan. Mereka tidak bermohon tetapi mereka berharap. Rupanya penulis menggunakan alur berpikir yang dernikian dengan maksud bahwa kalau orang Niniwe pada akhirnya diselamatkan, itu bukan karena permohonan mereka tetapi lebih merupakan prakarsa atau inisiatif Allah. Diselamatkan karena memang kehendak Allah.
Raja kota Niniwe (dan seluruh rakyatnya) juga berharap bahwa Allah akan menyesal. Padahal dalam Bil. 23: 19 dikatakan: "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakkan la berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" Demikian juga dalam I Sam. 15: 29 : "Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan la tidak tahu menyesal, sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal".
Perhatikan, dalam ayat 10 kita akan melihat bahwa ternyata harapan orang Niniwe itu terpenuhi. Allah menyesal. Allah tidak jadi menghukum mereka.
Satu hal lagi, bahwa dalam rangka pertobatan, penyesalan dan pembaharuan hidup dalam satu pengharapan akan keselamatan, kita tidak mendapati keterangan bahwa orang Niniwe pindah agama. Misalnya ke dalam agama Yunus. Penulis kitab hanya menjelaskan bahwa pada akhirnya orang Niniwe percaya kepada Allah, mereka berpuasa dan berkabung (3: 5) sebagai tanda penyesalan dan pertobatan.
Dengan ini dapat dimengerti bahwa pembenaran dan keselamatan tidak ditentukan oleh agama tertentu. Bahwa untuk memperoleh pembenaran dan keselamatan tidak harus berpindah agama. Keselamatan adalah dari Tuhan (Yunus 2:9).
3: 10. "Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya"
Kita telah melihat bagaimana tanggapan orang Niniwe terhadap seruan Yunus. Sekarang kita melihat di ayat ini bagaimana reaksi Allah terhadap perbuatan orang Niniwe. Harapan orang Niniwe terpenuhi. Allah menyesal dan tidak jadi melaksanakan hukuman yang telah dirancangkan-Nya. Jadi kita dapat memahami maksud penulis kitab, bahwa kalau Allah mengubah rencana-Nya, itu bukan karena Ia tidak konsisten tetapi lebih didasarkan pada kasih sayang-Nya pada manusia, atas Niniwe, bangsa non-Israel. Sebab Dia adalah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia (4: 2).
Berakhir sudah harapan yang tak pasti dan orang-orang Niniwe. Harapan dalam ketidakpastian telah berubah menjadi kepastian dalam kenyataan. Allah mau mengubah pandangan bila manusia mengubah arah. Baik di Israel maupun di bangsa-bangsa lain yakni Niniwe, hal itu terjadi atau berlaku.
Dalam Kel. 32: 14 kita membaca: "Dan menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya" (bnd. Yer. 18: 7 - 8). Demikian juga dalam Yeh. 18: 23, 32 : "Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik ? Demikianlah Firman Tuhan Allah. Bukankah pada pertobatan supaya ia hidup ? Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah Firman Tuhan Allah. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup !"
Dengan ini hendak menjelaskan bahwa apa yang berlaku bagi Israel, kini berlaku juga bagi bangsa non-Israel, yaitu Niniwe. Allah tidak terikat pada keputusanNya. Ia mengubah keputusan-Nya bukan berarti la tidak konsisten terhadap ucapan-Nya. Ia mengubah keputusan-Nya karena Ia mengasihi ciptaan-Nya, yaitu orang-orang dan seluruh yang hidup di Niniwe (bnd. 4: 11). Pengakuan Yunus bahwa Allah adalah pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya (4: 2), kini berlaku bagi Niniwe.
E. Universalisme Menurut Yunus 3: 1 - 10 (suatu kesimpulan)
Dalam Yunus 3: 1 - 10 (dan secara umum Yun. 1- 4) kita tidak menemui satu kata pun tentang istilah universalisrne[28]. Tetapi secara tersirat sebenarnya hal itu ada. Bahkan telah dijelaskan bahwa universalisme justru merupakan inti berita kitab Yunus. Oleh sebab itu saya akan menjelaskannya di bagian ini.
Pertama, ketika Tuhan Allah mernanggil dan mengutus Yunus untuk kedua kalinya ke Niniwe (3: 1 - 2), itu sebenarnya menunjukkan perhatian yang paling mendalam dan luar biasa dari Allah terhadap bangsa non-Israel. Allah tidak saja memperhatikan Israel atau Yahudi, tetapi Ia juga memperhatikan bangsa lain, sekalipun itu adalah musuh dan berkepercayaan lain dari Israel. Kasih Allah berlaku bagi orang Israel atau Yahudi dan juga bagi "bangsa lain".
Kedua, seperti telah dijelaskan dalam tafsiran ayat 4, bahwa seruan Yunus di Niniwe yakni: "Empat puluh hari lagi maka Niniwe akan ditunggangbalikkan", harus dilihat dan dipahami dalam dua sudut pandang. Di satu pihak kalimat ini menunjukkan partikularisme-eksklusif dari Yunus yang tidak memahami, atau lebih tepatnya tidak mau memahami kasih Allah terhadap bangsa lain. Itu sebabnya ia hanya memberitakan kehancuran Niniwe. Yunus tidak menghendaki bangsa lain itu diselamatkan oleh Allah. Bahkan Yunus merupakan personifikasi dari partikularisme Yahudi atau Israel.
Di pihak lain, seruan itu menunjukkan kasih sayang Allah terhadap Niniwe. Ini ditandai dengan masih diberikan-Nya waktu 40 hari bagi orang Niniwe. Waktu 40 hari itu adalah kesempatan untuk bertobat. Bukankah ini menunjukkan bahwa Allah mengasihi mereka? Bukankah ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki supaya mereka tetap hidup dan berada dalam suasana keselamatan?
Ketiga, dan ini paling jelas, yakni ketika Allah melihat pertobatan di Niniwe (yang menurut Nahum merupakan bangsa penumpah darah, penuh dusta dan perampasan, sihir dan persundalan), maka Ia tidak jadi melaksanakan rencana-Nya untuk menghukum Niniwe. Allah menyatakan kasih-Nya bagi bangsa nonIsrael/Yahudi. Allah menyelamatkan Niniwe. Allah adalah Sang Pengampun dan Juruselamat. Sekurang-kurangnya dari ketiga hal inilah kita dapat memahami apa yang disebut universalisme menurut Yunus 3: 1 - 10.
DAFTAR PUSTAKA
Barth, C., Theologia Perianiian Lama 4 , Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000
Bewer, Julius A. et al, The International Critical Commentary: a critical and exegetikal commentary on Hagai, Zecharia. Malachi and Jonah, Edinburg: T. & T. Clark Ltd, 1980
Darmawijaya, Yunus dan Pesannya, Yogyakarta: Kanisius, 1990.
Limburg, James, JONAH: A Commentary, London: SCM Press Ltd, 1993.
Kramer, A.Th., Singa Telah Mengaum: para Nabi dalam Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
Rad, G. von, Old Testament Thoeloc,ry Vol. II, London: SCM Press Ltd, 1979.
_________, Theological Dictionary of The New Testament Vol. III, ed. By. G.Kittel, Grand Rapids, Michigan: WMB Eedermands Publishing Company, 1972.
Wahono, S. Wismoady, Di Sini Kutemukan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I (A – L), Yogyakarta: YKBK, 2000
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II (M-Z), Yogyakarta: YKBK, 2000
[1] Sebutan Israel dalam Perjanjian Lama dipakai dalam pemahaman yang berbeda-beda menurut waktu dan tempat di mana sebutan itu dipakai/digunakan. Pada masa Yosua, Israel menunjuk pada semacam konfederasi kedua belas suku (Yos. 24). Ketika kerajaan Israel pecah dua, sebutan ini menunjuk pada kerajaan Utara. Tetapi sesudah pembuangan di Babilonia, Israel dibatasi pada orang-orang yang tinggal di propinsi Yudea dan lebih mengarah pada pengistilahan menurut etnis. Orang-orang lain walaupun tinggal di Palestina tapi tidak tinggal di Yudea, dilihat sebagai orang bukan Israel. (Lih. G.von Rad, `Israel and Yudaean' dalam Theological Dictionary of The New Testament Vol. III, ed. By. G.Kittel, Grand Rapids, Michigan: WMB Eedermands Publishing Company, 1972, pp. 357-359).
[2] James Limburg, JONAH: A Commentary, (London: SCM Press Ltd, 1993), p. 22; Bnd. G.von Rad, Old Testament Thoeloc,ry Vol. II, (London: SCM Press Ltd, 1979), p. 291.
[4] Bnd. Ibid.
[6] A.Th., Kramer, Singa Telah Mengaum: para Nabi dalam Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), him. 110-114.
[7] Wolf, Op.cit., p.98.
[8] Ibid., p. 114; Limburg, Op.cit., p. 53.
[11] Ibid.
[12] Vide. Limburg, Op.cit., p. 76.
[15] Vide. Wolff, Op.cit., p. 148.
[16] Ibid., p. 149.
[17] Aalders, Loc.cit.
[19] Limburg, Op.cit., p. 79.
[20] Vide. Wolff, Op.cit., p. 151.
[21] Julius A. Bewer, et al, The International Critical Commentary: a critical and exegetikal commentary on Hagai, Zecharia. Malachi and Jonah (Edinburg: T. & T. Clark Ltd, 1980), pp. 53 - 54; Lihat juga Ensiklooedi Alkitab Masa Kini Jilid I (A – L), hlm. 33, 37, 38.
[24] Yeremia menjalankan tugas kenabiannya sekitar tahun 627 - 586 seb.M (Lih. C. Barth, Theologia Perianiian Lama 4 , Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000, hlm. 72). Jadi tidak jauh berbeda dengan waktu terjadinya kitab Yunus.
[25] Di Israel ada Hukum Tentang Raja. Salah satu isinya ialah bahwa seorang raja tidak boleh tinggi hati, supaya ia tidak melanggar perintah. Kalau raja itu tidak tinggi hati ia akan lama memerintah (Lih. Ul. 17: 20).
[26] Wolff, Op.cit., p. 152.
[27] Bewcr, Op.cit., p. 55.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar